![]() |
| Foto : Health Reporters |
Reporter : Yuni Ridwan
KASUS gizi buruk yang terjadi di Sulawesi Tengah (Sulteng) saat ini masih terbilang tinggi dan memprihatinkan. Sejauh ini, sebaran gizi buruk hampir di semua daerah, namun yang menonjol berada di Kabupaten Donggala, Sigi, Banggai Kepulauan dan Parigi Moutong.
Tingginya angka kasus gizi buruk di daerah Moutong Kabupaten Parmout ini belum berbanding lurus dengan kebijakan pemerintah daerah yang cenderung belum sinergi antara instansi satu dengan instansi terkait lainnya dalam penanganan gizi buruk.
![]() |
| kurniawati |
"Sulawesi Tengah termasuk salah satu wilayah yang rentan. Bahkan masuk dalam lima besar gizi buruk di Indonesia," kata Kepala Seksi Gizi Dinas Kesehatan (Dinkes) Sulteng, kurniawati, Selasa (28/2).
Dikemukakannya, 2011 lalu kasus gizi buruk menimpa Sulteng mencapai 538 kasus. Jumlah tersebut, kata dia, diperkirakan tidak mengalami perubahan jauh pada tahun 2012. Menurutnya, penanganan dan pemulihan gizi buruk bagi balita membutuhkan waktu yang cukup lama hingga lima tahun.
"Data ini merujuk pada hasil kesehatan dasar pada 2011-2012," terang, kurniawati
Khusus Kota Palu papar dia, kasus gizi buruk tak begitu banyak seperti yang ada dibeberapa Kabupaten.
"Kecuali Kota Palu, kasusnya tidak begitu banyak. Kasusnya ada, tetapi diperoleh dari luar daerah yang kebetulan datang ke Palu," ujarnya.
Tingginya kasus gizi buruk diakui Kuriawati, di sebabkan masih ada daerah tertentu yang belum terjangkau sehingga hal ini tidak terdata secara maksimal. Naiknya angka gizi buruk, diketahui pasca bencana alam yang terjadi di beberapa Kabupaten di Sulteng. Selain itu lanjut dia, rata-rata kasus gizi buruk terjadi karena faktor ekonomi dan pola hidup tidak sehat.
“Kasus gizi buruk tidak berdiri sendiri, akan tetapi faktor pendidikan, kultur, lingkungan dan industrialisasi pangan ikut memberi pengaruh. Gizi berhubungan dengan pangan dan lingkungan sekitarnya. Negara misalnya, tidak punya proteksi atas produk makanan instan," pungkasnya.***
English Translate klik disini
English Translate klik disini


0 komentar:
Posting Komentar