Reportase: Indar Ismail/Mahful Haruna dari Kuala Lumpur, Malaysia
Kuala Lumpur,- HARI kedua School of Management Media (SoMM) di Kuala Lumpur, Kamis (20/7/2017), berlanjut dengan kunjungan ke media ternama di Malaysia. Rombongan Mercusuar berkesempatan berkunjung ke News Room New Strait Times, koran yang ternyata telah berusia 172 tahun.
Pukul 10.00 waktu Kuala Lumpur, bas persiaran (bus pariwisata) membawa kami, delegasi SoMM menuju Balai Berita News Straits Times Press (NSTP) di Bangsar. Jaraknya maksimal 30 menit dari Federal Hotel di Bukit Bintang, tempat kami menginap. Rombongan bertambah lengkap dengan delegasi public relationship (PR) dari berbagai perusahaan BUMN di Indonesia.
Tiba di Balai Berita NSTP, kami dijamu dengan kopi dan teh hangat plus nasi lemak. Nasi lemak adalah nasi bersantan plus ayam goreng. Kami disambut dengan hangat oleh Datuk Mahtar Ali, editor dari Berita Harian, satu dari tiga surat kabar grup NSTP. Dua media cetak lain adalah New Straits Times yang telah berdiri selama 172 tahun atau jauh hari sebelum Malaysia merdeka dari inggris dan Metro, koran yang terbit tahun 1991.
Azizi Othman, Executive Editor dan Special Project NSTP menjelaskan ketiga media tersebut memiliki segmen sendiri. New Straits Times memiliki 168 ribu pembaca harian dimana 60 persen adalah eksekutif muda antara 20-39 tahun.
Berita Harian yang pertama kali terbit pada Juli 1957 menyasar pembaca usia 25-44 tahun dengan rubrikasi pendidikan, gaya hidup, berita ekslusif dan komunitas. Satu lagi, koran Metro, menjadi surat kabar yang bisa menjangkau kehidupan masyarakat, dengan liputan sensasional dan memiliki banyak sisipan.
NSTP bernaung di bawah payung manajemen Media Prima Berhad dan merupakan grup media massa terbesar di penjuru Malaysia. Selain ketiga media cetak tersebut, Media Prima Berhad juga mengelola media televisi (TV3) dan sejumlah radio. Secara umum, lanjut Azizi, Media Prima dijangkau oleh 4.621.000 pembaca dalam sehari.
Jika media-media massa di Tanah Air kebanyakan dikuasai keluarga konglomerat atau para pimpinan partai politik yang terkait pemerintah, media massa di Malaysia dimiliki oleh para pemegang saham yang bukan bagian pemerintah tapi pro kepada kerajaan. Kreativitas dan inovasi justru menjadi kata kunci bagaimana media cetak di Malaysia terus dapat meningkatkan pendapatan usaha dan bertahan di antara serbuan teknologi informasi.
KESAMAAN SUDUT PANDANG
Dari pertemuan tersebut, Pimpinan Umum Mercusuar/Tri Media Grup yang juga Dewan Pertimbangan Serikat Perusahaan Surat Kabar (SPS) Pusat, Tri Putra Toana meyakini media yang ikut tumbuh bersama masyarakat akan terus mendapat tempat di masyarakat, seperti harian berbahasa Inggris News Straits Times yang berdiri jauh sebelum Malaysia merdeka dan dua media lain dari Malaysia tersebut.
Hal ini serupa dengan Mercusuar yang turut membidani lahirnya provinsi Sulteng. Sementara media yang semata-mata menganut sistem kapitalisme tidak akan bertahan lama karena hanya mengejar keuntungan dengan mengorbankan kepentingan rakyat, seperti yang saat ini dialami sejumlah media cetak di Indonesia.
Dari pertemuan singkat di Balai Berita NSTP itu pula, ada pelajaran berharga bagaimana ketiga pemimpin media cetak yang menemani kami dalam kunjungan, memberikan sambutan yang sangat bersahaja. Ini kontras dengan bisnis media raksasa yang mereka kelola. Ternyata seperti itulah kiranya tampilan para pemimpin media yang tak terpengaruh dengan gemerlap kehidupan dunia. **
Kuala Lumpur,- HARI kedua School of Management Media (SoMM) di Kuala Lumpur, Kamis (20/7/2017), berlanjut dengan kunjungan ke media ternama di Malaysia. Rombongan Mercusuar berkesempatan berkunjung ke News Room New Strait Times, koran yang ternyata telah berusia 172 tahun.
Pukul 10.00 waktu Kuala Lumpur, bas persiaran (bus pariwisata) membawa kami, delegasi SoMM menuju Balai Berita News Straits Times Press (NSTP) di Bangsar. Jaraknya maksimal 30 menit dari Federal Hotel di Bukit Bintang, tempat kami menginap. Rombongan bertambah lengkap dengan delegasi public relationship (PR) dari berbagai perusahaan BUMN di Indonesia.
Tiba di Balai Berita NSTP, kami dijamu dengan kopi dan teh hangat plus nasi lemak. Nasi lemak adalah nasi bersantan plus ayam goreng. Kami disambut dengan hangat oleh Datuk Mahtar Ali, editor dari Berita Harian, satu dari tiga surat kabar grup NSTP. Dua media cetak lain adalah New Straits Times yang telah berdiri selama 172 tahun atau jauh hari sebelum Malaysia merdeka dari inggris dan Metro, koran yang terbit tahun 1991.
Azizi Othman, Executive Editor dan Special Project NSTP menjelaskan ketiga media tersebut memiliki segmen sendiri. New Straits Times memiliki 168 ribu pembaca harian dimana 60 persen adalah eksekutif muda antara 20-39 tahun.
Berita Harian yang pertama kali terbit pada Juli 1957 menyasar pembaca usia 25-44 tahun dengan rubrikasi pendidikan, gaya hidup, berita ekslusif dan komunitas. Satu lagi, koran Metro, menjadi surat kabar yang bisa menjangkau kehidupan masyarakat, dengan liputan sensasional dan memiliki banyak sisipan.
NSTP bernaung di bawah payung manajemen Media Prima Berhad dan merupakan grup media massa terbesar di penjuru Malaysia. Selain ketiga media cetak tersebut, Media Prima Berhad juga mengelola media televisi (TV3) dan sejumlah radio. Secara umum, lanjut Azizi, Media Prima dijangkau oleh 4.621.000 pembaca dalam sehari.
Jika media-media massa di Tanah Air kebanyakan dikuasai keluarga konglomerat atau para pimpinan partai politik yang terkait pemerintah, media massa di Malaysia dimiliki oleh para pemegang saham yang bukan bagian pemerintah tapi pro kepada kerajaan. Kreativitas dan inovasi justru menjadi kata kunci bagaimana media cetak di Malaysia terus dapat meningkatkan pendapatan usaha dan bertahan di antara serbuan teknologi informasi.
KESAMAAN SUDUT PANDANG
Dari pertemuan tersebut, Pimpinan Umum Mercusuar/Tri Media Grup yang juga Dewan Pertimbangan Serikat Perusahaan Surat Kabar (SPS) Pusat, Tri Putra Toana meyakini media yang ikut tumbuh bersama masyarakat akan terus mendapat tempat di masyarakat, seperti harian berbahasa Inggris News Straits Times yang berdiri jauh sebelum Malaysia merdeka dan dua media lain dari Malaysia tersebut.
Hal ini serupa dengan Mercusuar yang turut membidani lahirnya provinsi Sulteng. Sementara media yang semata-mata menganut sistem kapitalisme tidak akan bertahan lama karena hanya mengejar keuntungan dengan mengorbankan kepentingan rakyat, seperti yang saat ini dialami sejumlah media cetak di Indonesia.
Dari pertemuan singkat di Balai Berita NSTP itu pula, ada pelajaran berharga bagaimana ketiga pemimpin media cetak yang menemani kami dalam kunjungan, memberikan sambutan yang sangat bersahaja. Ini kontras dengan bisnis media raksasa yang mereka kelola. Ternyata seperti itulah kiranya tampilan para pemimpin media yang tak terpengaruh dengan gemerlap kehidupan dunia. **

0 komentar:
Posting Komentar