KEMISKINAN DI SULTENG NAIK
reporter/editor: Firmansyah/andono wibisono Palu,- APAK KATA Gubernur Sulteng, Longki Djanggola sekaitan dengan paradoksal antara kemiskinan dan pertumbuhan ekonomi di wilayahnya sama-sama naik? Dalam kelaziman teori ekonomi, bila pertumbuhan ekonomi daerah naik, pasti meningkatkan kualitas (kemampuan) ekonomi daerah ikut naik. Tapi, hal itu tidak dapat dilihat secara tektual. Tapi juga harus didekati dengan kontekstual.
Menurut Longki, via whatsApp ke redaksi bahwa salah satu penyebabnya adalah nilai garis kemiskinan Sulteng lebih besar dibanding dengan daerah-daerah lain. Olehnya, walaupun pertumbuhan ekonomi naik, tapi karena nilainya tinggi dari daerah lain, maka bisa juga tidak signifikan pada pengurangan kemiskinan.
Selain itu, yang juga disoroti Gubernur Longki mengapa kemiskinan medio Maret 2017 naik menjadi 14,14 persen, salah satunya diakuinya belum terkoordinasi dengan baik antara provinsi dengan kabupaten-kabupaten yang memiliki potensi kemiskinan tersebut. ‘’Sehingga penanganannya tidak tuntas,’’ tegasnya dalam WA. Selanjutnya, secara tehnis program dan kegiatan pengentasan kemiskinan, Gubernur meminta media untuk menanyakan ke Bappeda Sulteng. ‘’Bila perlu anda tanya pakar ekonomi,’’ tulisnya diakhir pernyataannya.
Dilansir sebelumnya, (19/07/2017) Badan Pusat Statistik (BPS) Sulteng menyebut penduduk Sulteng yang miskin mengalami kenaikan, dibanding dengan sebelumnya. Pada September 2016, warga miskin di Sulteng 413 ribu jiwa atau 14,09 persen saja. Tapi pada Maret 2017, warga miskin itu naik menjadi 472 ribu jiwa atau 14,14 persen. Secara relatif mengalami kenaikan 0,05 persen. Selama periode itu, penduduk miskin di daerah perkotaan dan pedesaan bertambah masing-masing sebesar 2,08 ribu jiwa atau 2.063 jiwa. Demikian BPS Sulteng merilis Senin (17/07/2017) lalu.
Tetapi, di lain pihak, Sulteng mengalami pertumbuhan ekonomi yang sangat baik. Pertumbuhan ekonomi Sulteng selama triwulan I tahun 2017 tumbuh sebesar 3,91 persen, atau lebih tinggi dari triwulan VI tahun 2016 sebesar 3,80 persen. "Selisih pertumbuhan sangat kecil sekitar 0,11 persen," kata Kepala Bank Indonesia perwakilan Sulteng, Miyono di Palu (27/06/2017) pada antarasulteng.com.
Miyono menjelaskan nilai tambah pertumbuhan sektor pertambangan nikel jika dilihat dari triwulan I tahun 2015 lalu, secara umum tidak lagi memberikan dampak signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi.
Sementara itu kata dia, perbaikan produksi dari sektor pertanian terutama sub sektor tanaman pangan dan perkebunan, memberikan dampak yang cukup baik, seiring dengan berakhirnya anomali cuaca el nino dan la nina beberapa waktu terakhir. "Dampaknya mendorong pertumbuhan ekonomi, meski dalam skala terbatas," ungkap Miyono.
Selain itu, kondisi produksi smelter baru untuk industri Nikel di Kabupaten Morowali Utara yang belum optimal, serta belum selesainya pembangunan pabrik pengolahan amonia di Kabupaten Banggai, merupakan faktor utama penyebab akselerasi pertumbuhan ekonomi tidak setinggi periode sebelumnya.
Miyono berharap jika nantinya pembangunan pabrik itu selesai sesuai dengan perencanaan, dapat memberikan penambahan peningkatan hasil dari sektor indistri pengolahan dan sekaligus memberikan peningkatan perekonomian Sulteng di triwulan IV tahun 2017.
"Kami memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Sulteng untuk triwulan II tahun 2017 berada pada kisaran 5,5 persen hingga 5,9 persen bila dibandingkan dengan triwulan I tahun 2017 sebesar 3,91 persen," tutup Miyono.
Lantas mengapa kemiskinan naik? Masih dikatakan BPS Sulteng, bahwa faktor yang disinyalir menyebabkan tingginya laju inflasi dipicu naiknya harga komoditas pangan Maret 2017 dibanding September 2016. Harga beras, cabe rawit, gula pasir, cakalang dan rokok filter baik masing-masing sebesar 5,26 persen, 40,87 persen, 9,56 persen, 30,43 persen, 0,69 persen.
Komoditas tersebut juga memberi pengaruh terhadap naiknya angka kemiskinan di Maret 2017. Selain pengaruh inflasi, tertundanya penyaluran raskin/rastra pada Januari 2017 hingga pertengahan maret 2017 kelompok masyarakat miskin harus mengeluarkan biaya extra untuk membeli beras. Selain itu menurunya produksi pangan khususnya padi juga turutmemberikan andil.
Hal ini ditegaskan pula oleh Kabid Sosial BPS Sulteng Sarmiati. Dia mengatakan bahwa salah satu faktor penyebab dari tingginya inflasi di Sulteng dengan naiknya atau melambungnya harga komoditas seperti beras, di Sulteng harga beras sekitar Rp.10.000 perkilo, sedangkan di Sulawesi Selatan hanya berkisar Rp.6000 perkilogramnya, "Jadi harga juga sangat berpengaruhbesar terhadap garis kemiskinan" ungkapnya. **


0 komentar:
Posting Komentar